Tradisi WEWEH…

Idhul Fitri merupakan hari raya bagi umat islam. Dan merupakan hari kemenangan, kemenangan dari hawa nafsu setelah kita melaksanakan puasa ramadhan. Sebelum merayakan hari kemenangan, kita melaksanakan puasa selama satu bulan penuh. Di bulan yang penuh berkah ini, kita hendaknya memperbanyak amal shaleh seperti saling berbagi, saling membantu, dan saling memberi.
Di desa Kaliombo, masyarakat sangat antusias menyambut hari raya Idhul Fitri. Sebelum hari raya Idhul Fitri tiba, masyarakat telah mempersipakan segala kebutuhan yang berkaitan dengan Idhul Fitri seperti makanan, kue, pakaian dan lain-lain. Manusia adalah mahluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri dan membutuhkan orang lain. Manusia tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga memerlukan bantuan orang lain dalam rangka untuk memenuhi kebutuhannya. Masyarakat Kaliombo yang terdiri dari individu-individu yang berbeda latar belakang sosial dan ekonominya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya juga saling ketergantungan satu sama lain. Menjelang Idhul Fitri, kebutuhan seseorang akan meningkat dan mendesak untuk segera dipenuhi. Untuk menghadapi keadaan seperti ini setiap individu saling membantu satu dengan yang lain dengan cara pertukaran. Menurut Cook (1973:823) pertukaran merupakan konsep yang berhubungan dengan sosok-sosok tentang pengubahan barang atau jasa tertentu dari individu-individu atau kelompok-kelompok, dan pengubahan ini dilakukan dengan cara memindahkan barang atau jasa kepada individu-individu atau kelompok-kelompok lain guna mendapatkan barang atau jasa yang dibutuhkan. Sehingga di desa Kaliombo satu minggu sebelum Idhul fitri, Ibu-Ibu memasak masakan yang akan diberikan kepada kerabat dan tetangganya. Masakan tersebut didalamnya terdapat nasi, telur, sayuran dan lain-lain. Kegiatan membagi-bagikan atau memberikan makanan kepada orang lain di desa Kaliombo dikenal dengan sebutan “weweh”. Kegiatan seperti ini sudah puluhan tahun dilaksanakan yaitu setiap setahun sekali menjelang Idhul Fitri. Kegiatan tersebut telah menjadi tradisi maasyarakat setempat.

Desa Kaliombo terletak di Kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara. Sebagian besar masyarakat masyarakatnya bermatapencaharian sebagai petani. Dan sebagian yang lain bekerja sebagai buruh pabrik, padagang, wiraswata dan PNS. Seluruh masyarakat atau penduduk desa Kaliombo beragama Islam. Aktivitas keagamaan di desa ini berjalan dengan baik. Hal ini ditunjang dengan keberadaan fasilitas keagamaan seperti Mushola yang berjumlah enam buah, dan sebuah Masjid. Seluruh aktivitas dan perilaku masyarakat didasarkan pada nilai-nilai dan norma-norma agama.
Di desa kaliombo terdapat suatu tradisi masyarakat yang telah berlangsung lama yang dilaksanakan masyarakat menjelang Idhul Fitri. Tradisi ini dikenal dengan nama “weweh”yaitu setiap keluarga memberiakn makanan berupa nasi, telur, dan lauk pauk kepada tetangga dan kerabat. Hampir seluruh masyarakat melakukan kegiatan tersebut. Sehingga saling terjadi pertukaran barang (makanan) diantara masyarakat. Ada masyarakat yang bertindak sebagai pemberi dan ada yang sebagai penerima. Dalam Antropologi Ekonomi kegiatan masyarakat tersebut disebut resiprositas, yaitu pertukaran timbal balik antar individu atau antar kelompok. Menurut Polanyi (1968:10) resiprositas adalah rasa timbal balik (resiprokal) sangat besar yang difasilitasi oleh bentuk simetri institusional, ciri utama organisasi orang-orang yang terpelajar.
Di masyarakat Kaliombo, tradisi weweh ini dilakukan oleh siapapun, tidak memandang seseorang itu mempunyai kedudukan atau jabatan, seseorang itu mempunyai kekayaan dan lain sebagainya. Buruh memberikan makanan (weweh) kepada sang majikan. Begitu juga sebaliknya seorang majikan memberikan makanan (weweh) kepada buruh (bawahan). Kegiatan atau tradisi ini dapat berlangsung karena diantara masyarakat terdapat hubungan simetris. Hubungan simetris yaitu hubungan sosial, dengan masing-masing pihak menempatkan diri dalam kedudukan dan peranan yang sama ketika proses pertukaran berlangsung. Masyarakat desa yang mempunyai karakteristik tersendiri seperti gotong royong, kekeluargaan, hubungan intim atau hubungan personel yang kuat akan menunjang resiprositas yang terdapat di masyarakat.
Keberadaan resiprositas juga ditunjang oleh stuktur masyarakat yang egaliter (Halperin dan Dow,1978:122), yaitu ditandai oleh rendahnya tingkat stratifikasi sosial, sedangkan kekuatan politik relative terdistribusi merata dikalangan warganya. Stuktur masyarakat yang egaliter ini memberi kemudahan bagi warganya untuk menempatkan diri dalam kategori sosial yang sama ketika mengadakan kontrak resiprositas. Masyarakat Kaliombo yang sebagian besar bermatapencaharian sebagiai petani, menunjukkan tingkat ekonomi masyarakat relative sama. Sehingga stratifikasi sosial di desa Kaliombo rendah.
Tradisi weweh yang dilakukan oleh masyarakat Kaliombo setiap setahun satu kali ini merupakan resiprositas yang relativ pendek. Dikatakan pendek karena proses tukar menukar barang atau jasa dilakukan dalam jangka waktu tidak lebih dari satu tahun. Hal ini dapat dilihat bahwa tradisi weweh dilaksanakan selam bulan ramadhan dan mencapai puncaknya pada saat tujuh hari sebelum lebaran. Biasanya ketika suatu keluarga diberi weweh oleh keluarga lain, maka keluarga tersebut akan membalas memberikan weweh kepada keluarga yang memberi itu pada saat itu juga ataupun selang satu atau dua hari sesudahnya.
Masyarakat Kaliombo memandang tradisi weweh ada beberapa pandangan :
Bahwa tradisi weweh merupakan bagian dari shodaqoh. Bagi masyarakat Kaliombo yang mayoritas beragama islam, weweh merupakan salah satu bentuk pemberian dari seseorang kepada orang lain. Tujuan utama dari pemberian itu adalah mendapat pahala, bukan untuk mendapatkan penghargaan atau sanjungan dari orang lain. Hal ini disesuaikan dengan momen (waktu) ramadhan. Dengan berbuat baik kepada orang lain dengan cara memberi akan meringankan beban hidup orang lain.
Sebagian masyarakat memandang tradisi weweh merupakan resiprositas umum, dimana individu atau kelompok memberikan barang atau jasa kepada individu atau kelompok lain tanpa menentukan batas waktu pengembaliannya. Disini masing-masing pihak percaya bahwa mereka akan saling memberi, dan percaya bahwa barang atau jasa yang diberikan akan dibalas entah kapan waktunya. System resiprositas umum biasanya berlaku dilapangan orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat dekat (Swartz dan Jordan, 1976 : 477-478). Di Kaliombo weweh diberikan kepada kerabat baik kerabat dekat maupun kerabat jauh yang masih mempunyai hubungan keluarga (genetis). Sedangkan weweh yang diberikan kepada tetangga atau teman itu mempunyai makna simbolik dari hubungan kesetiakawanan atau cinta kasih. Resiprositas yang digunakkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut adalah resiprositas simbolik. Menurut Arnold Rose (dalam buku Ritzer, 2003:54) manusia berada dalam lingkungan simbol-simbol memberikan tanggapan terhadap symbol itu yang berupa fisik. Manusia memiliki kemampuan untuk menginterpretasikan simbol-simbol secara verbal melalui pemakaian bahasa serta memahami makna dibalik simbol.

Tradisi weweh yang merupakan bentuk resiprositas yang berada di desa memberikan beberapa manfaat bagi masyarakat antara lain.
Weweh merupakan suatu bentuk bantuan dari seseorang kepada orang lain dalam rangka memnuhi kebutuhan hidupnya.
Weweh merupakan salah satu bentuk sedekah yang akan memberikan manfaat bagi yang memberi dan orang yang diberi.
Membina solidaritas sosial dan menjamin kebutuhan ekonomi sekaligus mengurangi resiko kehilanag yang dipertukarkan.
Bagi orang yang memberi weweh, akan meningkatkan status atau kedudukan orang tersebut di masyarakat.

by: Luthfi

Facebook Comments
About kaliombo 3 Articles
Desa Kaliombo Kec. Pecangaan Kab Jepara Petinggi : Aqshol Amri Carik : Nuryanto Total RT : 18 Total RW : 3 terdiri dari 3 dukuh 1. dukuh karang botoh 2. dukuh kerajan 3. dukuh doropayung Potensi Desa Pertanian dan Peternakan

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan